Bentrokan terjadi saat Rizieq Shihab mengisi ceramah di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyatakan kekecewaan terhadap insiden tersebut yang melibatkan Ormas Perwakilan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) dan Front Persaudaraan Islam (FPI) dalam peringatan bulan Muharam. GP Ansor menekankan penolakan terhadap kekerasan dan penggunaan senjata tajam, serta mengutuk tindakan tersebut. Dalam konteks demokrasi, perbedaan pendapat bisa terjadi namun disarankan untuk menahan diri demi menjaga kedamaian.
Kepala Satkornas Banser Muhammad Syafiq Syauqi menegaskan dukungan terhadap proses hukum yang transparan dan adil serta pentingnya penanganan yang bijak untuk mencegah konflik lebih lanjut. Aparat kepolisian dan pemerintah daerah diapresiasi atas langkah cepat dalam mengamankan lokasi dan mengevakuasi korban untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Lebih lanjut, GP Ansor mendorong penguatan komunikasi antarorganisasi keagamaan sebagai respons terhadap peristiwa tersebut.
Di sisi lain, PWI LS dan kubu Rizieq juga angkat suara terkait insiden tersebut. Koordinator Komunikasi Antarwilayah DPP PWI LS, Andi Rustono, menyebut bahwa mereka telah memberi peringatan terkait kehadiran Rizieq Shihab dalam pengajian tersebut. Meskipun demikian, dia menegaskan bahwa massa PWI LS datang dengan niat menyampaikan aspirasi secara damai, bukan memulai bentrokan. Sementara kuasa hukum Rizieq, Azis Yanuar, memberikan versi peristiwa berbeda dan menegaskan kronologi insiden sesuai dengan pihaknya. Polisi sendiri mencatat sejumlah korban dari berbagai pihak yang terlibat dalam bentrokan tersebut, dan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

