Keterasingan dan Kesepian Meningkat, Terutama pada Remaja
Keterasingan dan kesepian semakin menjadi masalah serius dalam kesehatan mental di Indonesia. Menurut Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), masalah ini terjadi di semua golongan usia, namun paling banyak terjadi pada remaja.
Menurut Ketua Himpsi, Jaya Widura Imam Mustopo, dalam acara ‘Semiloka Darurat Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia’ di Jakarta, pada Selasa (12/12/2023), begitu banyaknya kasus depresi, kecemasan, dan keterasingan telah menyebabkan peningkatan perasaan kesepian di masyarakat.
Survei yang dilakukan Himpsi pada September 2023 menunjukkan lonjakan kasus kesehatan mental yang signifikan, terutama pada anak-anak. Data tersebut mendukung gejala yang sudah diidentifikasi oleh pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kementerian PPPA).
Widura mengatakan bahwa data survei tersebut mengonfirmasi peningkatan kasus kesehatan mental pada anak-anak, sehingga membutuhkan penanganan yang lebih serius. Salah satu solusi yang ditawarkan Himpsi adalah melalui pendekatan pertolongan kesehatan mental pertama (mental health first aid) untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat awam tentang cara menangani orang-orang dengan masalah kesehatan mental. Dengan begitu, para penderita kesehatan mental dapat ditangani dengan lebih baik.
Selain itu, anggota Himpsi lainnya, Tri Iswardani, juga menekankan tentang pentingnya perhatian yang diberikan orang tua kepada anak-anak. Kekurangan perhatian dari orang tua dapat menyebabkan anak merasa kesepian dan terlantar, yang kemudian dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak di masa depan.
Keluarga dan sekolah dianggap mempunyai peran penting dalam membangun kesehatan mental anak-anak. Dengan langkah yang tepat, seorang anak dapat tumbuh menjadi manusia yang kuat baik secara mental maupun fisik. Karenanya, perlu adanya pendekatan lebih intensif baik dari keluarga maupun dari sekolah dalam membina kesehatan mental anak.
Dalam hal ini, guru juga dianggap memiliki peran yang penting dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi oleh anak di lingkungan sekolah. Hal ini diperkuat oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek, Nunuk Suryani. Dia menyampaikan pentingnya peran guru dalam memahami dan mengidentifikasi masalah penindasan (bullying) yang dialami anak-anak. Guru dapat memberikan peran sebagai benteng perlindungan bagi anak-anak di lingkungan sekolah dengan mendengarkan laporan-laporan yang disampaikan oleh orang tua murid.
Segala usaha tersebut bertujuan untuk mengurangi kasus-kasus bunuh diri maupun depresi yang disebabkan oleh keterasingan dan kesepian. Dengan begitu, diharapkan angka kasus kesehatan mental di Indonesia dapat terus ditekan dan dikelola dengan lebih baik.

