Jakarta, CNN Indonesia — Tradisi Gentong Haji yang masih terjaga di Cirebon, Jawa Barat, menjadi bagian tak terpisahkan dalam momen keberangkatan jemaah haji ke Tanah Suci. Di Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, terdapat salah satu contoh tradisi ini.
Gentong Haji: Simbol Keberangkatan Jemaah Haji
Salah satu calon jemaah haji, Slamet, menandai keberangkatannya dengan meletakkan gentong berisi air segar di depan rumahnya. Gentong tersebut memiliki tutup kukusan dari anyaman bambu, yang menjadi penanda bagi warga sekitar bahwa pemilik rumah sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.
Selama Slamet berada di Tanah Suci, gentong berisi air tetap terletak di depan rumahnya. Air segar di dalam gentong bukan hanya sebagai pajangan, tetapi juga sebagai ‘sedekah minum’ bagi siapa pun yang melintas. Tradisi ini turun-temurun di wilayah Cirebon sebagai bagian dari momen keberangkatan keluarga berhaji.
Doa Bersama Bagi Jemaah Haji
Selain meletakkan gentong di depan rumah, tradisi lain yang tetap dijaga adalah pengajian bersama untuk mendoakan jemaah haji yang berada di Tanah Suci. Setelah waktu Maghrib atau Isya, tetangga dan kerabat Slamet berkumpul di rumahnya untuk membaca doa bersama. Doa-doa ini menjadi bentuk dukungan dan kebersamaan dalam momen ibadah haji.
Tradisi Gentong Haji bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan doa bagi keluarga yang sedang menunaikan ibadah haji. Meskipun zaman terus berubah, tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Cirebon sebagai bagian dari warisan budaya dan agama yang bernilai tinggi.

