Monday, April 13, 2026

Konservasi Tak Bisa Berdiri Sendiri Kata Wahdi Azmi

Share

- Advertisement -

Ketika topik konservasi dibahas, biasanya pikiran kita akan langsung tertuju pada upaya menyelamatkan hutan dan satwa liar. Kita membicarakan habitat yang terus tergerus, populasi binatang yang menurun, atau konflik yang makin sering antara manusia dan binatang liar.

Namun, bagi Wahdi Azmi, seorang dokter hewan dan penggiat konservasi berpengalaman di Sumatera, ada dimensi penting yang acap kali terlupakan—manusia itu sendiri. Ia mengemukakan dalam forum Leaders Talk Tourism, tepatnya dalam bahasan Surat Edaran Ditjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, bahwa pemahaman tentang konservasi sepatutnya tidak melulu untuk satwa atau kawasan saja.

Menurut Wahdi, konsep konservasi akan selalu sulit bertahan jika tak memberikan manfaat kepada manusia yang berada di sekitar kawasan tersebut. Ia menilai, dalam konflik antara manusia dengan gajah yang sering ia temui, masalah utamanya justru ada pada perubahan lanskap yang tidak berimbang dengan perencanaan ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekelilingnya.

Kawasan yang tadinya berupa hutan berubah menjadi kebun atau pemukiman. Ruang jelajah satwa jadi sempit, sementara penduduk setempat menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Kondisi seperti itu menyebabkan terjadinya benturan antara manusia dan satwa, dan respons masyarakat pun kerap menutup peluang interaksi positif dengan alam.

Sering kali, upaya konservasi masih berkutat pada pendekatan perlindungan: menetapkan kawasan terlarang, membatasi masuknya manusia, atau sekadar bergantung pada regulasi sebagai benteng terakhir kelestarian. Teori semacam ini memang terlihat masuk akal secara administratif.

Sayangnya, implementasi di lapangan justru menjauhkan masyarakat dari program konservasi. Warga sekitar kawasan sering kali merasa kehilangan akses terhadap sumber daya, kehilangan kesempatan ekonomi, dan menghadapi risiko konflik yang makin tinggi dengan binatang liar.

Dampaknya, konservasi dianggap sebagai beban, bukan sebagai kebutuhan bersama atau peluang membangun masa depan yang lebih baik. Wahdi mengingatkan, sudah saatnya konservasi mengadopsi pendekatan integrasi: manusia, ekosistem, dan ekonomi lokal harus berjalan bergandengan.

Integrasi menurut Wahdi bukan sebatas pelibatan formal masyarakat, melainkan terciptanya keterkaitan nyata antara pelestarian alam, penghidupan ekonomi, dan proses edukasi yang berkelanjutan. Tanpa adanya sinergi di antara ketiganya, konservasi akan rentan dan terus-menerus membutuhkan intervensi dari luar.

Prinsip ini juga bisa dilihat saat kita menyoroti kawasan lain, misalnya di Mega Mendung, Bogor. Tekanan terhadap lahan di kawasan perbukitan itu sangat tinggi, hingga dampaknya bukan hanya pada keberlanjutan hutan, tapi juga pola hidup dan pengelolaan air di sekitarnya.

Di sana, pendekatan konservasi mulai diubah oleh kawasan Arista Montana yang dikembangkan Yayasan Paseban bersama Andy Utama. Alih-alih menjadikan konservasi sebagai proyek terpisah, mereka merancangnya sebagai bagian organik dari sistem ekonomi masyarakat lokal.

Salah satu contohnya adalah pengembangan pertanian organik berbasis komunitas. Para petani dilibatkan langsung dari hulu sampai hilir, mulai dari mengelola lahan, mempelajari teknik pertanian ramah lingkungan, hingga memasarkan hasil panen ke pasar yang lebih luas.

Dengan cara ini, melestarikan lingkungan bukan sekadar tugas moral, tetapi kebutuhan ekonomi yang konkret. Kesehatan tanah dan air menjadi syarat produktivitas, sehingga pelestarian alam nyatanya berjalan seiring dengan kecukupan ekonomi keluarga-keluarga di sana.

Kunci perubahan tersebut terletak pada peran Yayasan Paseban yang menyadari pentingnya membangun kapasitas masyarakat. Melalui pelatihan, edukasi, dan pendampingan, mereka mendorong masyarakat bukan hanya mengerti konsep ekologi, namun juga punya keterampilan mengelola sumber daya secara lestari dan menjadikannya penghidupan yang layak.

Edukasi dan pelatihan bukan sekadar sarana penyadaran, tetapi pembekalan kemampuan praktis, mulai dari olah lahan hingga manajemen pemasaran. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi sekadar penerima manfaat konservasi, melainkan juga motor utama keberhasilan dan keberlanjutan sistem tersebut.

Jika kita cermati kembali pengalaman Wahdi Azmi di Sumatera, dan membandingkannya dengan praktik di Mega Mendung, pola yang terlihat kurang-lebih serupa. Di tempat Wahdi bekerja, konflik manusia–gajah kerap dipicu absennya desain integratif yang mempertemukan kebutuhan satwa dan ekonomi lokal. Sementara di Mega Mendung, integrasi konservasi dan ekonomi terbukti mampu menurunkan potensi konflik dan menghadirkan solusi baru bagi tantangan perkembangan kawasan.

Intinya, efektivitas konservasi bukan semata-mata soal luas area yang dilindungi. Keberhasilan sangat dipengaruhi oleh kedalaman keterikatan antara manusia dan lingkungan yang diurus. Bila masyarakat merasa memiliki peran dan mendapat manfaat nyata, pelestarian berlangsung lebih lama dan kokoh.

Sayangnya, dalam banyak kasus di Indonesia, masyarakat justru kurang dilibatkan. Minimnya pendidikan, kurangnya keterampilan, serta tidak jelasnya insentif ekonomi acap membuat program konservasi tak bertahan lama dan sekadar menggantung pada pengawasan dari luar.

Sebaliknya, ketika komunitas lokal didorong menjadi agen perubahan—dengan pendidikan, pelatihan, dan akses ekonomi—konservasi berubah menjadi gerakan bersama yang lahir secara alamiah, bukan dari tekanan eksternal.

Pengalaman dari interaksi antara konsep dan praktik, seperti yang dialami Wahdi Azmi dan dilaksanakan di Mega Mendung, memperlihatkan pentingnya membangun jembatan antara kebutuhan ekologi dan kebutuhan ekonomi secara bersamaan.

Konteks Indonesia yang terus menghadapi tekanan pembangunan menuntut model konservasi baru yang tidak berdiri sendiri, tetapi mampu mengikat antara kehidupan, ekonomi, pengetahuan, dan lingkungan. Pelestarian alam tidak lagi cukup bila hanya dijaga sebagai “wilayah larangan masuk.” Ia mesti hadir sebagai pilar dalam keseharian masyarakat, fondasi pembangunan, dan alasan yang kuat agar generasi kini dan mendatang ikut merasa perlu menjaga alam bersama.

Akhirnya, seperti yang diutarakan Wahdi, pertanyaan besar bagi konservasi Indonesia bukan hanya bagaimana kita melindungi alam, melainkan apakah manusia—khususnya masyarakat setempat—melihat ada makna dan alasan kuat untuk ikut menjadi bagian dari pelestarian itu sendiri.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi

Baca Lainnya

Berita Terbaru