Wednesday, January 14, 2026

AI dalam Wabah Disinformasi: Ancaman Baru Demokrasi

Share

- Advertisement -

Dalam sebuah seminar ilmiah tingkat pascasarjana yang dilaksanakan oleh Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia pada tanggal 23 hingga 24 Oktober 2025, isu kekuatan teknologi dan ancaman siber di era kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan utama. Acara tersebut menghadirkan Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, untuk menyampaikan gagasan strategis yang mewakili Menteri Komunikasi dan Digital. Di hadapan peserta, Raden Wijaya membahas perubahan besar dalam geopolitik global akibat perkembangan AI dan dinamika persaingan teknologi.

Dunia saat ini tengah mengalami transformasi dimana data dan kecanggihan algoritma AI telah menjelma menjadi kekuatan penentu dalam dominasi global. Raden Wijaya memaparkan bahwa infrastruktur digital kini menjadi fondasi utama bagi aktor-aktor global dalam merebut peran strategis. Inovasi di bidang AI tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial, tapi juga mengubah struktur kekuasaan di ranah internasional.

Persaingan AI di Kancah Global

Dalam pemaparannya, ia menyoroti dampak kemunculan DeepSeek dari Tiongkok yang mampu menantang posisi AI Barat, sekalipun hanya berbekal investasi relatif rendah yakni sebesar 6,5 juta USD. Teknologi tersebut berhasil menurunkan valuasi pasar AI global secara signifikan, dari kisaran 1 miliar USD menjadi 969 juta USD. Fakta ini menunjukkan betapa kompetitif dan cepatnya lanskap ekosistem teknologi berubah, sekaligus merefleksikan bagaimana inovasi bisa datang dari mana saja dan menimbulkan efek domino secara global.

Tak berhenti di situ, Raden Wijaya menekankan bahwa konflik dinamis seperti antara Iran dan Israel, juga perang Rusia-Ukraina, menunjukkan betapa AI telah menjadi bagian integral dari sistem pertahanan dan persenjataan masa depan. Kemampuan AI sebagai teknologi serbaguna (dual-use), keterkaitan erat dengan industri microchip, sampai pengaruh negara-negara maju dalam menyusun standar-standar internasional, semuanya membuktikan betapa AI telah beralih menjadi ajang pertarungan geopolitik yang menentukan masa depan kekuatan dunia.

Dimensi Ancaman Siber: Evolusi dan Tantangan Baru

Topik ancaman siber mendapat perhatian khusus dalam forum tersebut. Menurut Raden Wijaya, ancaman di dunia maya kini memiliki wajah baru yang kian rumit, menembus batas-batas negara, dan sangat sulit diprediksi. Fenomena dual-use pada teknologi siber, di mana aplikasi sipil dapat dengan mudah dialihfungsikan untuk kepentingan militer atau kejahatan digital, merupakan tantangan nyata yang dihadapi semua negara.

Pada aspek pertama, beliau menggarisbawahi bahwa hampir seluruh infrastruktur digital, mulai dari perangkat keras, piranti lunak, hingga pemanfaatan cloud computing, berpotensi besar digunakan untuk berbagai serangan seperti infiltrasi jaringan, peretasan data, hingga manipulasi informasi. Negara-negara dengan kemampuan tinggi dalam teknologi siber mampu melancarkan operasi strategis, sementara kelompok non-negara, termasuk penjahat dunia maya dan hacktivist, juga dapat menimbulkan gangguan serius pada infrastruktur publik bahkan dengan sumber daya terbatas.

Ancaman berikutnya bersifat asimetris: pelaku berkekuatan besar dapat mengincar pusat vital lawan, namun pelaku dengan sumber minim pun berpeluang untuk meluncurkan serangan yang merusak melalui malware atau teknik zero-day exploit. Hal ini menciptakan ruang maya sebagai arena terbuka, di mana siapapun bisa menjadi pelaku ataupun korban dalam waktu singkat.

Lebih jauh, serangan siber biasanya memiliki unsur anonim dan sulit terlacak. Pelaku bisa menggunakan perantara seperti grup kriminal atau konsultan teknologi, sehingga pihak penyerang tak mudah diidentifikasi. Algoritma AI juga membantu mempercepat pencarian celah keamanan dan memungkinkan pembuatan serangan otomatis secara masif, sehingga memperparah kompleksitas pertahanan siber saat ini.

Selain itu, AI generatif membuka peluang terbentuknya operasi informasi baru yang mampu memproduksi disinformasi dan propaganda digital berkualitas tinggi secara instan. Fenomena ini sering dimanfaatkan oleh aktor negara maupun non-negara, baik untuk memengaruhi persepsi publik, memecah stabilitas sosial, maupun melemahkan legitimasi institusi pemerintahan.

Dengan seluruh tantangan tersebut, Raden Wijaya menegaskan bahwa ancaman siber bukan sekadar isu teknis, melainkan masalah strategis yang melibatkan kedaulatan digital, keamanan nasional, dan stabilitas politik. Ia menyebutkan pentingnya Indonesia membangun sistem ketahanan siber yang kokoh, mendorong pengembangan talenta digital, memperkuat mekanisme deterrence, serta berinvestasi pada riset dan teknologi dalam negeri.

Menuju Kedaulatan Digital Indonesia

Pada bagian penutup, Raden Wijaya menegaskan kebutuhan Indonesia untuk menyeimbangkan inovasi dengan upaya perlindungan. Penanaman modal dalam riset AI, pengembangan sumber daya manusia digital, hingga pembangunan ekosistem infrastruktur mikroprosesor sangatlah penting agar Indonesia mampu mengendalikan dan mengamankan teknologi yang menjadi tulang punggung ekonomi dan keamanan nasional. Di tengah kompetisi AI dunia, Indonesia dituntut bukan hanya memiliki teknologi mutakhir, tetapi juga kecakapan dalam menjaga dan mempertahankan kontrol atas teknologi tersebut demi kepentingan strategis bangsa ke depan.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global

Baca Lainnya

Berita Terbaru