Data konsumen ekspedisi Ninja Express diduga bocor, yang mengakibatkan ratusan orang menerima paket isi sampah. Kasubdit III Ditressiber Polda Metro Jaya, AKBP Rafles Langgak Putra Marpaung, menjelaskan bahwa kasus dugaan kebocoran data terungkap setelah Ninja Express menerima 100 komplain dari konsumen yang menggunakan metode pembayaran cash on delivery (COD). Para konsumen mengeluhkan bahwa paket yang mereka terima tidak sesuai dengan pesanan yang mereka lakukan.
Tim Ninja Express kemudian melakukan audit internal setelah menerima komplain tersebut. Hasilnya, ditemukan 294 pengiriman dengan pembayaran COD yang bermasalah, termasuk di antaranya pengiriman yang lebih cepat dari yang direncanakan. Setelah penyelidikan lebih lanjut, didapati bahwa data pemasaran yang bermasalah disebabkan oleh akses yang tidak sah dari seorang karyawan di salah satu cabang Ninja Express.
Setelah interogasi terhadap karyawan, terungkap bahwa pelaku kebocoran data adalah pekerja harian lepas yang tidak memiliki akses terhadap sistem Ninja Express. Pelaku memanfaatkan kelengahan seorang karyawan yang memiliki akses untuk melakukan infiltrasi terhadap sistem, dan berhasil mencuri sekitar 10.000 data.
Setelah mengetahui hal ini, Ninja Express segera membuat laporan kepolisian dan berhasil menangkap dua tersangka yang terlibat dalam kasus tersebut. Sampai saat ini, pihak Ninja Express belum memberikan keterangan resmi terkait kebocoran data yang terjadi. Para pengguna dan konsumen diharapkan lebih waspada dan berhati-hati terhadap keamanan data pribadi mereka dalam melakukan transaksi online.

