GAZA — Serangan brutal Israel di Jalur Gaza disebut sebagai upaya pengusiran warga Gaza dari rumah-rumah mereka. Warga Palestina menolak upaya-upaya tersebut meski harus memertaruhkan nyawa di rumah mereka yang habis dihancurkan bom penjajah. Sebuah keluarga Palestina beranggotakan enam orang bersikeras untuk tetap tinggal di rumahnya di kota Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah. Padahal tempat tinggal tersebut telah menjadi puing-puing akibat serangan udara Israel. Keluarga tersebut terus hidup dalam kondisi yang sulit setelah pesawat tempur Israel menghancurkan rumah dua lantai mereka pada bulan lalu. Serangan itu juga melukai serius kepala keluarga Khaled Naji yang berusia 51 tahun. Khaled mengatakan dikutip dari Anadolu Agency, bahwa mereka terkejut dengan pemboman rumah meskipun tidak ada sasaran militer di dekat hunian itu. Rudal Israel mengubah rumahnya dan rumah tetangganya menjadi puing-puing. “Pemboman tersebut menyebabkan luka dalam di tangan saya dan luka bakar di tubuh saya setelah saya pulih dari bawah reruntuhan…,” kata Khaled. “Kepadatan mendorong saya untuk kembali tinggal di rumah setelah saya melihat warga mendirikan tenda yang terbuat dari baju robek, nilon, dan timah (di tempat penampungan sementara),” ujarnya. Di tengah reruntuhan rumah, istri Khaled Siham Naji sedang memotong tomat dan paprika. Dia menyiapkan sarapan untuk keluarganya dengan bantuan Khaled dan salah satu anak mereka. Meski berada dalam situasi yang mengerikan, keluarga tersebut bersikeras untuk tetap tinggal di rumahnya. Mereka bekerja dengan dedikasi untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menjamin penghidupan. Pada dini hari, keluarga ini berjuang mengorek di antara puing-puing untuk mencari beberapa potongan kayu dari perabotan yang hancur akibat pengeboman. Khaled bekerja keras membuang puing-puing untuk mencari sedikit kayu agar bisa menyalakan api dan menyiapkan makanan sarapan yang dikenal sebagai “wajan tomat” yang terdiri dari tomat, paprika, dan bawang putih yang diaduk di atas api hingga matang. “Kami menyiapkan makanan dan roti di atas reruntuhan,” kata Khaled. Khaled menjelaskan, keluarganya tinggal di bagian kamar bobrok bersama keluarganya, meskipun rumah mereka hancur total. Meski kehancuran dan kesakitan menimpa keluarga tersebut, Siham berusaha membelai cucunya di atas kasur yang diletakkan di atas reruntuhan. Keluarga tersebut berlindung di sebuah ruangan retak, yang merupakan sisa-sisa rumah, untuk tidur dan menghabiskan waktu di dalamnya. “Meskipun terjadi kehancuran, kami akan tetap teguh. Kami tidak bisa meninggalkan rumah kami. Mereka (tentara Israel) ingin memaksa kami meninggalkan tanah air kami, dan kami tidak akan menerimanya dengan nyawa kami,” ujar Khaled. Menurut Khaled, keluarganya merupakan orang-orang pemilik suatu tujuan dan pemilik tanah. “Penjajah (Israel) datang dari banyak negara. Mereka semua adalah tentara bayaran dan tidak punya tanah air…Tidak ada kemungkinan bagi kami untuk meninggalkan tanah kami meskipun terjadi kehancuran,” katanya. “Pendudukan menghancurkan rumah kami, dan saya berharap perang akan berakhir. Semua mainan saya hilang,” kata Youssef, anak kecil pasangan itu. Siham menyatakan, keluarganya tetap tinggal di sebagian kecil sisa ruangan rumah. “Tidak ada air atau rumah untuk tinggal, dan musim dingin akan tiba. Kami tidak tahu bagaimana beradaptasi dan hidup,” ujarnya. Menurut Siham, gencatan senjata kemanusiaan tidak cukup untuk meringankan penderitaan masyarakat. “Kami berharap perdamaian dan stabilitas akan kembali dalam kehidupan kami,” tambahnya. Jeda kemanusiaan yang awalnya ditetapkan selama empat hari antara Israel dan faksi-faksi Palestina mulai berlaku pada pukul 07.00 waktu setempat pada 24 November 2023. Perjanjian jeda kemanusiaan tersebut mencakup pembebasan 50 tahanan Israel dari Gaza, dengan imbalan pembebasan 150 warga Palestina dari penjara Israel. Kesepakatan ini pun mengatur masuknya ratusan truk bermuatan bantuan kemanusiaan dan bantuan medis dan bahan bakar ke seluruh wilayah Jalur Gaza. Kini kesepakatan itu telah diperpanjang dua hari. Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober. Sejak itu, serangan itu membunuh sedikitnya 14.854 warga Palestina, termasuk 6.150 anak-anak dan lebih dari 4.000 perempuan. Sedangkan Korban tewas resmi di Israel mencapai 1.200 orang. WARTA
Rekaman video drone yang diambil oleh Reuters di atas Gaza sebelum dan sesudah dimulainya serangan Israel ke daerah kantong Palestina ini. Di mana sebelum serangan menunjukkan Gaza sebagai daerah perkotaan yang sibuk, dengan anak-anak bermain dan orang-orang yang melakukan pekerjaan mereka – kemudian pemandangan yang menakutkan dari reruntuhan gedung-gedung dan lubang kawah bekas bom yang berasap, layaknya permukaan bulan. Foto-foto yang diambil sebelum 7 Oktober menunjukkan sekolah, masjid dan gereja, serta benteng Islam Barquq dari abad ke-14. Orang-orang berjalan di jalanan atau berkendara di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan. Satu adegan menunjukkan anak-anak pergi ke sekolah dengan kereta keledai. Adegan lainnya menunjukkan orang-orang yang sedang bersenang-senang di taman air. Wilayah Gaza, yang terletak di sepanjang pantai Mediterania, telah lama berada di bawah blokade Israel dan Mesir di Selatan, yang membatasi pergerakan warga Palestina. Wilayah yang dikuasai oleh gerakan pejuang Hamas, Gaza merupakan salah satu tempat yang paling padat penduduknya di dunia dan telah mengalami kekurangan ekonomi selama bertahun-tahun. Namun kehidupan dan pembangunan di Gaza saat itu, terus berjalan. Beberapa rekaman menunjukkan kamp pengungsi daerah Pantai, sebuah area yang terdiri dari rumah-rumah petak, rumah-rumah dari batako yang padat, dengan tempat mencuci yang digantung di luar. Tempat ini merupakan rumah bagi keluarga dan keturunan para pengungsi dari perang tahun 1948 saat pembentukan negara Israel. Video lain menunjukkan, sebelum serangan Israel di kamp pengungsi lainnya, Nusseirat, anak-anak menikmati tarian di jalanan. Kemudian rekaman video drone di Nusseirat yang direkam setelah dimulainya pengeboman Israel menunjukkan kehancuran yang meluas, dengan kawah-kawah yang berasap dan bangunan-bangunan yang rata dengan tanah. Israel menyerang Gaza sebagai pembalasan atas serangan yang dilakukan oleh militan Hamas di Israel selatan pada tanggal 7 Oktober. Usai serangan tersebut, pihak Hamas menahan sekitar 240 orang warga yang dibawa kembali ke Gaza sebagai sandera. Sementara itu, pengeboman Israel selama berminggu-minggu dari darat, laut dan udara serta invasi darat di Gaza utara telah menewaskan hampir 15.000 orang di daerah kantong tersebut. Akibat pengeboman ini, telah menciptakan krisis kemanusiaan terparah di Gaza. Jutaan warga di Utara Gaza harus meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan di tempat lain di daerah Selatan, yang penuh sesak tersebut. Beberapa pejabat pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan AS meminta Israel berusaha agar tidak ada “pengungsian lebih lanjut yang signifikan” warga sipil Palestina di Gaza selatan. Jika Israel melanjutkan serangan daratnya ke Gaza yang bertujuan memberantas Hamas. Pada Selasa (28/11/2023) para pejabat pemerintah AS itu mengatakan AS berusaha menghindari jatuhnya korban sipil skala besar atau pengungsian massal seperti yang terjadi sebelum gencatan senjata. AS menggarisbawahi kepada Israel mereka harus beroperasi dengan ketepatan yang jauh lebih besar di Gaza selatan daripada yang mereka lakukan di bagian utara. Pejabat yang memberikan pengarahan kepada para wartawan tidak bersedia disebutkan namanya karena peraturan yang ditetapkan Gedung Putih. Di tengah meningkatnya tekanan internasional dan domestik atas meningkatnya jumlah korban jiwa dari pihak Palestina, Gedung Putih mulai memberikan tekanan yang lebih besar kepada Israel. Salah satu pejabat itu mengatakan AS meminta operasi militer selanjutnya “dipikirkan dengan matang.” Pejabat tersebut mengatakan Israel menerima keprihatinan yang disampaikan pemerintah AS. Presiden Joe Biden mengatakan ia ingin melihat jeda pertempuran yang memungkinkan pertukaran sandera dan tahanan serta meningkatkan masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke Gaza terus berlanjut selama memungkinkan. WARTA
Rekaman video drone yang diambil oleh Reuters di atas Gaza sebelum dan sesudah dimulainya serangan Israel ke daerah kantong Palestina ini. Di mana sebelum serangan menunjukkan Gaza sebagai daerah perkotaan yang sibuk, dengan anak-anak bermain dan orang-orang yang melakukan pekerjaan mereka – kemudian pemandangan yang menakutkan dari reruntuhan gedung-gedung dan lubang kawah bekas bom yang berasap, layaknya permukaan bulan. Foto-foto yang diambil sebelum 7 Oktober menunjukkan sekolah, masjid dan gereja, serta benteng Islam Barquq dari abad ke-14. Orang-orang berjalan di jalanan atau berkendara di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan. Satu adegan menunjukkan anak-anak pergi ke sekolah dengan kereta keledai. Adegan lainnya menunjukkan orang-orang yang sedang bersenang-senang di taman air. Wilayah Gaza, yang terletak di sepanjang pantai Mediterania, telah lama berada di bawah blokade Israel dan Mesir di Selatan, yang membatasi pergerakan warga Palestina. Wilayah yang dikuasai oleh gerakan pejuang Hamas, Gaza merupakan salah satu tempat yang paling padat penduduknya di dunia dan telah mengalami kekurangan ekonomi selama bertahun-tahun. Namun kehidupan dan pembangunan di Gaza saat itu, terus berjalan. Beberapa rekaman menunjukkan kamp pengungsi daerah Pantai, sebuah area yang terdiri dari rumah-rumah petak, rumah-rumah dari batako yang padat, dengan tempat mencuci yang digantung di luar. Tempat ini merupakan rumah bagi keluarga dan keturunan para pengungsi dari perang tahun 1948 saat pembentukan negara Israel. Video lain menunjukkan, sebelum serangan Israel di kamp pengungsi lainnya, Nusseirat, anak-anak menikmati tarian di jalanan. Kemudian rekaman video drone di Nusseirat yang direkam setelah dimulainya pengeboman Israel menunjukkan kehancuran yang meluas, dengan kawah-kawah yang berasap dan bangunan-bangunan yang rata dengan tanah. Israel menyerang Gaza sebagai pembalasan atas serangan yang dilakukan oleh militan Hamas di Israel selatan pada tanggal 7 Oktober. Usai serangan tersebut, pihak Hamas menahan sekitar 240 orang warga yang dibawa kembali ke Gaza sebagai sandera. Sementara itu, pengeboman Israel selama berminggu-minggu dari darat, laut dan udara serta invasi darat di Gaza utara telah menewaskan hampir 15.000 orang di daerah kantong tersebut. Akibat pengeboman ini, telah menciptakan krisis kemanusiaan terparah di Gaza. Jutaan warga di Utara Gaza harus meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan di tempat lain di daerah Selatan, yang penuh sesak tersebut. Beberapa pejabat pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan AS meminta Israel berusaha agar tidak ada “pengungsian lebih lanjut yang signifikan” warga sipil Palestina di Gaza selatan. Jika Israel melanjutkan serangan daratnya ke Gaza yang bertujuan memberantas Hamas. Pada Selasa (28/11/2023) para pejabat pemerintah AS itu mengatakan AS berusaha menghindari jatuhnya korban sipil skala besar atau pengungsian massal seperti yang terjadi sebelum gencatan senjata. AS menggarisbawahi kepada Israel mereka harus beroperasi dengan ketepatan yang jauh lebih besar di Gaza selatan daripada yang mereka lakukan di bagian utara. Pejabat yang memberikan pengarahan kepada para wartawan tidak bersedia disebutkan namanya karena peraturan yang ditetapkan Gedung Putih. Di tengah meningkatnya tekanan internasional dan domestik atas meningkatnya jumlah korban jiwa dari pihak Palestina, Gedung Putih mulai memberikan tekanan yang lebih besar kepada Israel. Salah satu pejabat itu mengatakan AS meminta operasi militer selanjutnya “dipikirkan dengan matang.” Pejabat tersebut mengatakan Israel menerima keprihatinan yang disampaikan pemerintah AS. Presiden Joe Biden mengatakan ia ingin melihat jeda pertempuran yang memungkinkan pertukaran sandera dan tahanan serta meningkatkan masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke Gaza terus berlanjut selama memungkinkan. WARTA
Rekaman video drone yang diambil oleh Reuters di atas Gaza sebelum dan sesudah dimulainya serangan Israel ke daerah kantong Palestina ini. Di mana sebelum serangan menunjukkan Gaza sebagai daerah perkotaan yang sibuk, dengan anak-anak bermain dan orang-orang yang melakukan pekerjaan mereka – kemudian pemandangan yang menakutkan dari reruntuhan gedung-gedung dan lubang kawah bekas bom yang berasap, layaknya permukaan bulan. Foto-foto yang diambil sebelum 7 Oktober menunjukkan sekolah, masjid dan gereja, serta benteng Islam Barquq dari abad ke-14. Orang-orang berjalan di jalanan atau berkendara di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan. Satu adegan menunjukkan anak-anak pergi ke sekolah dengan kereta keledai. Adegan lainnya menunjukkan orang-orang yang sedang bersenang-senang di taman air. Wilayah Gaza, yang terletak di sepanjang pantai Mediterania, telah lama berada di bawah blokade Israel dan Mesir di Selatan, yang membatasi pergerakan warga Palestina. Wilayah yang dikuasai oleh gerakan pejuang Hamas, Gaza merupakan salah satu tempat yang paling padat penduduknya di dunia dan telah mengalami kekurangan ekonomi selama bertahun-tahun. Namun kehidupan dan pembangunan di Gaza saat itu, terus berjalan. Beberapa rekaman menunjukkan kamp pengungsi daerah Pantai, sebuah area yang terdiri dari rumah-rumah petak, rumah-rumah dari batako yang padat, dengan tempat mencuci yang digantung di luar. Tempat ini merupakan rumah bagi keluarga dan keturunan para pengungsi dari perang tahun 1948 saat pembentukan negara Israel. Video lain menunjukkan, sebelum serangan Israel di kamp pengungsi lainnya, Nusseirat, anak-anak menikmati tarian di jalanan. Kemudian rekaman video drone di Nusseirat yang direkam setelah dimulainya pengeboman Israel menunjukkan kehancuran yang meluas, dengan kawah-kawah yang berasap dan bangunan-bangunan
Share
- Advertisement -
Baca Lainnya

