Friday, August 14, 2026

Starbucks Menyangkal Klaim Keuntungan Mengalir ke Israel, Ini Penjelasannya

Share

- Advertisement -

Jakarta – Starbucks angkat bicara terkait tuduhan mereka yang diduga mendukung Israel hingga munculnya seruan boikot. Dalam pernyataan resmi, manajemen menyatakan bahwa mereka tidak memberikan bantuan keuangan dengan cara apapun kepada Israel.

“Baik Starbucks maupun mantan pemimpin, presiden, dan CEO perusahaan, Howard Schultz, tidak memberikan dukungan keuangan kepada pemerintah Israel dan/atau Angkatan Darat Israel dengan cara apa pun,” tulis Starbucks dalam pernyataan resminya yang diperbarui pada Oktober 2023.

Manajemen juga mengklaim bahwa Starbucks tidak pernah memberikan keuntungannya kepada pemerintah Israel atau tentara Israel. Sebagai perusahaan publik, Starbucks menyatakan bahwa mereka diwajibkan untuk menyampaikan setiap pemberian perusahaan setiap tahun melalui proxy statement.

“Rumor bahwa Starbucks atau Howard memberikan dukungan keuangan kepada pemerintah Israel dan/atau Angkatan Darat Israel adalah tidak tepat,” ucapnya.

Starbucks juga menyatakan bahwa perusahaan ini tidak mendukung berbagai tindakan yang mengandung kebencian dan kekerasan. Pihaknya turut menyampaikan simpati bagi mereka yang menjadi korban dan terkena dampak akibat aksi keji yang terjadi di Timur Tengah.

“Kami dengan tegas menyatakan tidak mendukung tindakan yang mengandung kebencian dan kekerasan, sepenuhnya mendukung usaha perdamaian di dunia,” tegas Starbucks.

Sebagai informasi, Starbucks memiliki gerai yang tersebar di 86 pasar termasuk lebih dari 1.900 toko di 11 wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang mempekerjakan lebih dari 19 ribu karyawan. Di Israel, Starbucks memutuskan untuk membubarkan kemitraannya pada 2003 karena tantangan operasional yang dialami di pasar tersebut.

Starbucks juga tidak setuju dengan pandangan dan tindakan terorisme, kebencian, dan kekerasan. Merek tersebut menggugat serikat pekerjanya, Starbucks Workers United, yang menyatakan solidaritas terhadap warga Palestina.

Gugatan dilayangkan Starbucks karena Serikat pekerja dianggap menyalahgunakan nama, logo dan kekayaan intelektual perusahaan. Hal itu sudah sempat disampaikan kepada karyawannya pada 17 Oktober 2023, tertanda dari Chief Partner Officer Sara Kelly.

Starbucks dengan tegas mengutuk tindakan terorisme, kebencian, dan kekerasan. Mereka menyatakan bahwa pandangan dan tindakan yang diungkapkan oleh Workers United tidak mewakili pandangan, posisi, atau keyakinan perusahaan mereka.[](aid/das)

Baca Lainnya

Berita Terbaru