Pihak berwenang dan kelompok masyarakat sipil di banyak negara telah melaporkan lonjakan antisemitisme sejak serangan 7 Oktober oleh Hamas ke Israel selatan dan pemboman Jalur Gaza oleh militer Israel. Kejadian ini telah mempengaruhi berbagai negara, dan berikut adalah ringkasan tentang dampak lonjakan tersebut di beberapa negara:
Amerika Serikat: Kelompok advokasi Yahudi, Anti-Defamation League, melaporkan bahwa insiden antisemit telah meningkat sekitar 400 persen dalam dua minggu setelah serangan 7 Oktober, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Para pejabat pemerintah Amerika Serikat telah bertemu dengan pemimpin Yahudi Amerika untuk membahas langkah-langkah dalam melawan antisemitisme, terutama di kampus-kampus universitas.
Kanada: Perdana Menteri Justin Trudeau telah mengungkapkan kekhawatiran akan peningkatan antisemitisme di Kanada. Insiden-insiden seperti ujaran antisemit di media sosial telah meningkat, termasuk di sekolah menengah atas Yahudi di Toronto.
Argentina: Negara ini masih terluka oleh dua serangan pada tahun 1990-an terhadap kedutaan Israel dan pusat komunitas Yahudi. Pemimpin Yahudi Argentina telah memperingatkan anggota komunitas untuk meningkatkan kewaspadaan. Sebuah sekolah Yahudi di Buenos Aires telah meminta murid-muridnya untuk tidak mengenakan seragam di luar sekolah, dan beberapa tim telah menarik diri dari kompetisi tenis meja karena khawatir menjadi target.
Brasil: Pemimpin Yahudi di Brasil telah melihat peningkatan retorika antisemit di media sosial dan insiden-insiden seperti grafiti yang merusak sebuah sinagog di Rio de Janeiro. Meskipun tidak ada laporan ancaman fisik atau penyerangan, kekhawatiran akan keamanan institusi Yahudi telah meningkat.
Inggris: Polisi London melaporkan peningkatan 14 kali lipat dalam insiden antisemitisme sejak serangan 7 Oktober. Community Security Trust, yang mengumpulkan laporan antisemitisme di Inggris, juga melaporkan jumlah insiden tertinggi dalam tiga minggu setelah serangan tersebut sejak mereka mulai mengumpulkan data pada tahun 1984.
Prancis: Menteri Dalam Negeri Prancis mengatakan bahwa sejak 7 Oktober telah terjadi 819 tindakan antisemit, dibandingkan dengan 436 pada tahun 2022. Setidaknya 414 penangkapan terkait dengan antisemitisme telah dilakukan.
Jerman: Sebuah survei oleh observatorium masyarakat sipil menemukan peningkatan 240% dalam insiden antisemit pada periode 7-15 Oktober dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Belanda: Meskipun tidak ada angka resmi yang tersedia, peningkatan drastis dalam insiden antisemitisme telah terjadi, dan kecemasan tinggi dirasakan di komunitas Yahudi. Orang tua Yahudi melaporkan bahwa anak-anak mereka dilecehkan di sekolah dengan komentar-komentar yang mendukung Hamas atau mengejek mereka.
Afrika Selatan: Jumlah insiden antisemit pada bulan Oktober sembilan kali lipat lebih tinggi dari rata-rata selama satu dekade terakhir. Salah satu insiden terjadi ketika seorang wanita dilecehkan secara daring setelah membagikan tautan yang mendukung pembebasan sandera Israel.
Rusia dan Cina juga melaporkan adanya insiden antisemitisme, namun tidak ada data resmi yang tersedia. Meskipun ada hukum yang melarang ujaran kebencian di media sosial, belum ada tindakan yang jelas dari pihak berwenang untuk menanggulangi aktivitas antisemit di dunia maya.

