Tuesday, January 20, 2026

PDIP: Jokowi Telah Meninggalkan Kami, Meskipun Kami Sangat Mencintainya

Share

- Advertisement -

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengungkapkan ke sedihannya terkait situasi yang terjadi saat ini. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, mengatakan bahwa partainya tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dalam keterangannya, dia menyatakan bahwa saat DPP Partai bertemu dengan anak ranting dan ranting sebagai struktur partai paling bawah, banyak yang tidak percaya bahwa situasi ini dapat terjadi.

Hasto juga menyatakan bahwa PDIP begitu mencintai dan memberikan hak istimewa yang begitu besar kepada Presiden Jokowi dan keluarganya. Namun, partai tersebut merasa ditinggalkan karena masih ada permintaan lain yang berpotensi melanggar prinsip kebaikan dan konstitusi.

Pada awalnya, PDIP berusaha berdoa agar situasi ini tidak terjadi. Tetapi kenyataannya berbeda. Hasto juga menyebutkan seluruh elemen partai yang berhasil memenangkan Jokowi dan keluarganya dalam lima pemilihan kepala daerah dan dua pemilihan presiden.

Hasto menyebutkan bahwa perasaan tersebut merupakan bentuk rasa sayang dari PDIP. Awalnya, mereka memilih untuk diam. Namun, dengan adanya pernyataan dari sejumlah tokoh seperti Butet Kartaredjasa, Goenawan Muhammad, Eep Syaifullah, Hamid Awaludin, Airlangga Pribadi, dan lain-lain, serta para ahli hukum tata negara, tokoh pro demokrasi, dan gerakan masyarakat sipil, akhirnya PDIP berani untuk mengungkapkan perasaan mereka.

PDIP sendiri percaya bahwa Indonesia adalah negara di mana rakyatnya bertaqwa kepada Tuhan dan mementingkan moralitas, kebenaran, dan kesetiaan. Namun, pencalonan Gibran Rakabuming Raka dianggap sebagai pelanggaran konstitusi dan rakyat Indonesia. Semua ini dikombinasikan dengan rekayasa hukum melalui Mahkamah Konstitusi.

Hasto juga mengungkapkan bahwa dia menerima pengakuan dari beberapa ketua umum partai politik yang merasa kartu truf mereka dipegang. Ada yang mengatakan bahwa masa jabatannya hanya sehari, dan ada juga yang mengatakan tentang beratnya tekanan kekuasaan.

Artikel ini ditulis oleh Ruang Berita dan diterbitkan di situs REPUBLIKA.CO.ID pada tanggal 31 Oktober 2023.

Baca Lainnya

Berita Terbaru